Powered by Blogger.

Tentang Februari: Yang Tertinggal Namun Tak Terlupa

by - May 13, 2018

Barang di kost yang memakan 1/3 bagian dari tempat tidur
"Life goes on" mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk diucapkan kepada diri sendiri ketika perubahan dalam hidup datang menjemput tanpa diundang, karena memang banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dikendalikan. Salah satu halnya adalah ketika masa kuliah gue yang sudah hampir selesai hingga membuat gue akhirnya harus keluar dari kost di Serpong dan pindah kembali ke rumah di Bogor. Perubahan tersebut cukup membayang-bayangi gue beberapa minggu sebelum hari tersebut akhirnya datang. Bayangan mengenai jarak yang tidak lagi dekat untuk bertemu dengan teman, bayangan mengenai akan hilagnya kebiasaan yang telah terbentuk selama tiga tahun lebih di Serpong, dan bayangan mengenai semakin dekatnya masa depan.

Jika tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru, maka ada banyak sekali kebiasaan yang akan tertinggal di Serpong setelah kembali ke rumah. Ada banyak sekali kebiasaan yang tidak lagi bisa dilakukan setelah keluar dari kost. Ada banyak sekali kebiasaan yang akan membuat rindu.

Satu dari sekian malam ketika kita menghabiskan waktu di MCD SDC
Kebiasaan paling sederhana seperti makan bareng sebenarnya adalah kebiasaan yang paling membuat rindu. Ketika makan bareng sesederhana mengajak siapa saja secara tiba-tiba tanpa harus membuat rencana panjang dari jauh hari, karena kami semua tinggal berdekatan, dan jadwal kami yang hampir sama membuat makan bareng menjadi situasi yang rutin. Tempat favorit kami pada saat itu sepertinya MCD SDC karena tempat itu menyediakan tempat duduk outdoor yang terbuka untuk umum selama 24 jam. Terkadang kami bisa duduk-duduk hingga lewat tengah malam. Sering kali yang kami lakukan hingga larut hanyalah duduk-duduk bersama menikmati angin malam tanpa berbicara terlalu banyak. Kebiasaan itu membuat gue sadar betapa kenyamanan bersama seseorang bukan diukur dari seberapa banyak kita bisa bercerita kepada orang tersebut, tetapi dari seberapa kita bisa tidak merasa canggung bersama dengan orang tersebut meski dalam keadaan diam sekali pun, membiarkan waktu berjalan tanpa harus bergegas. 

Dimatikannya lampu-lampu sekitar lah yang biasanya menjadi tanda bahwa waktu telah lewat tengah malam dan sebaiknya kami segera pulang kecuali bagi Darren. Sebelum lampu-lampu itu mati, setiap pukul 11 malam, pesan singkat dari orang tuanya sudah seperti alarm yang memaksanya untuk pulang, terkadang dituruti, terkadang tidak dihiraukan. 

Ketika bumbu nasi goreng menyelamatkan menu makan siang hari itu
Ketika tidak ada yang bisa diajak makan bersama, maka gue pun harus masak sendiri di kost. Dibanding di rumah di mana makanan buatan nyokap selalu tersedia, makanan buatan sendiri di kos jelas tidak akan sebanding, tetapi ketika keadaan memaksa, maka  gue harus berkreasi sendiri dengan bahan-bahan yang gue punya. Ketika bahan-bahan yang tersisa di kulkas terlalu beragam, maka pada saat itu juga lah bumbu instan nasi goreng hadir sebagai pemersatu. Tidak ada aturan tertulis mengenai bahan apa saja yang boleh dimasukkan ke dalam nasi goreng, maka seperti pada hari itu, gue mencampurkan ikan salmon dan bakso ayam yang tersisa di kulkas dengan nasi dan membuat nasi goreng dengan bumbu nasi goreng instan. Hasilnya cukup memuaskan, bahkan sangat memuaskan, jelas saja, bagaimana mungkin makanan dengan bantuan bumbu ber-MSG bisa tidak enak. 

Tentu saja MSG adalah teman bagi sebagian besar anak kost yang memiliki kemampuan seadanya dalam memasak dan terbatasnya persediaan bahan seperti gue. Bumbu nasi goreng instan, Indomie, ramen instan, kalian semua adalah penyelamat di kala lapar dan mager (malas gerak) melanda secara bersamaan!

Judulnya: 'Belajar bersama' sebelum UAS terakhir
Selain untuk makan, gue dan teman-teman juga sering berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama. Salah satu tempat yang sering kami kunjungi adalah apart Nabyl yang juga di SDC, seberang cluster kost gue. Tempat itu ga besar, tapi sering kami gunakan untuk berkumpul, bermain Playstation, nonton film, maupun belajar bersama hingga belasan orang, sampai-sampai yang datang belakangan biasanya akan sulit untuk menentukan kemana harus melangkah dan di mana harus duduk, karena sebagian besar areanya sudah ditempati. Bagaimana mungkin tempat seperti itu bisa digunakan sebagai tempat untuk belajar bersama? Jawabannya adalah memang tidak bisa. Ya, kami memang selalu gagal untuk belajar setiap kali berkumpul di apart Nabyl dengan judul belajar bersama, karena pada akhirnya hanya satu dua orang yang tetap belajar, dan sisanya hanya ngobrol, tidur-tiduran, sibuk mengeluh dan tertawa seakan-akan ujian keesokan harinya tidak ada. 

Langit sore yang tidak datang setiap hari
Basecamp kami selain apart Nabyl adalah kost Filbert, meski jarak menuju ke tempat ini dari kost gue ga semudah menyeberangi jalan seperti ke apart Nabyl, tapi tempatnya luas dan yang paling gue senangi dari tempat ini adalah rooftopnya. Ketika satu dari sekian hari di mana warna jingga tergurat  pada langit sore, maka pada saat itu jugalah gue akan naik ke atas rooftop untuk kemudian berdiri dan hanya berdiam diri hingga matahari sempurna tenggelam. Saat itu pun gue sadar kalau langit sore di Serpong itu indah sekali karena bangunan-bangunan pada area itu terbilang rendah, tidak ada gedung pencakar langit seperti di Jakarta yang menghalangi pemandangan. Membuat jarak pandang langit menjadi sangat luas, dan gue yaking gue akan merindukan pemandangan itu ketika di rumah nanti.

Sayang sekali pemandangan sore itu harus tetap tertinggal di Serpong, namun tak akan pernah terlupa, sama seperti kebiasaan-kebiasaan yang telah gue bentuk selama 3 tahun terakhir sendiri maupun bersama teman-teman ketika masih tinggal di kost. Yang menyenangkan biarkan tetap dalam ingatan, juga yang tidak menyenangkan agar bisa menjadi pembelajaran di masa yang akan datang. Ntah akan seperti apa kebiasaan yang akan terbentuk di tempat baru nanti ketika sudah saatnya untuk kembali pergi dari rumah, semoga akan juga menjadi perjalanan baru yang sama menyenangkannya dengan tiga tahun belakangan ini.

You May Also Like

0 comments